Rabu, April 15

Doakan kami.

Sudah sering amat saya mendengarkan kata ini.
Bosan!
Tak tahu nak buat apa.

Hampir sebulan sudah peperiksaan akhir tahun kami. Sudah banyak aktiviti yang kami semua sertai. Sudah banyak kejutan-kejutan yang berlaku selama hampir sebulan sudah. Tapi saya di mana? Saya masih kelu. Tidak tahu apa yang berlaku. Sedih sekali pada diri saya. Saya ketinggalan jauh ke belakang. Sudah terlalu lama saya tidak berlama-lama berinternet. Banyak artikel-artikel berat yang tidak sempat saya baca. Saya jadi rindu pada diri saya. Rindu membaca artikel banyak-banyak. Rindu lepak lama-lama di website-website perubatan. Saya hanya membaca sekadar melepaskan batuk di tangga. Saya jadi tidak tahu apa-apa. Sedih sekali.

Saya sedang bertaruh pada masa depan saya. Saya sedang melakukan perkara sinting. Masakan tidak. Saya bakal pulang pada tanggal 6 Mei 2009. Tarikh ini jugalah saya mengetahui keputusan samada saya layak menyambung pengajian saya di Ukm atau tidak. Ini memang tidak masuk akal. Saya sudah hampir mengemas semua barang-barang saya. Beberapa kotak telah tersedia hanya menunggu untuk diambil dan belayar di Selat Melaka. Barang-barang bakal tiba di Malaysia dan saya masih di bumi Jatinangor, merenung diri tanpa hala tujuan. Akaun bank bakal saya tutup. Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS) bakal saya tamatkan juga. Dan segala-galanya tampak nihil. Saya seperti sudah tidak ada kaitan dengan Indonesia, sehingga keputusan akhir peperiksaan saya diumumkan. Sungguh, saya dan beberapa sahabat sedang bertaruh. Pertaruhan yang cukup besar.

"Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongmu mengalahkan orang lain. Aku hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah." - sumber blog motivasi sukses

Saya sangat terkesan dengan ayat dan kisah yang dituturkan. Lantas, saya cuma berharap apa-apa yang ditakdirkan Allah buat saya, saya dapat menerimanya dengan redha. Tak salah menangis mengenang nasib, cuma biarlah ia hanya barang sekejap sahaja. Itu saja harapan saya. Saya berharap selepas segala-galanya yang ditakdirkan Allah, saya masih tetap mampu tersenyum dan meneruskan hidup. Kegagalan bukanlah akhir kehidupan. Walaupun saya tahu, mana boleh gagal!

Kisah ini menjadi pengajaran tak terkira buat saya. Nasihat buat adik-adik junior saya, jangan pernah memandang sebelah mata subjek-subjek berjam kredit 1 seperti saya. Akibatnya, rasakanlah di tahun akhir pengajian praklinikal. You are non eligible for the fourth year promotion. Huh! Lantas saya secara wajibnya perlu menduduki ujian sekali lagi. Remedial exam yang mana nak tak nak saya perlu lulus untuk saya layak ke tahun 4. Buat teman-teman lain, InsyaAllah kita juga bakal pulang bersama-sama. Apa yang penting? Kejesame! (Ini hanya saya, dia dan dia aje yang tahu)

Doakan kami. Doa kalian amat-amat kami harapkan.

Minggu, April 5

Syukran Jazilan



Aku bersyukur dapat mengenali kalian.
Terima kasih kerana menerimaku seadanya.
Terima kasih atas tunjuk ajar kalian.
Terima kasih kerana bersabar denganku.
Terima kasih atas hadiah nan istimewa di hari lahirku.
Terima kasih atas segala gelak ketawa kalian.
Halalkan makan minum dan ilmu kalian, ya teman.
Akan sangat merindui saat kita bersama.
Syukran jazilan, ya sahabah.
Nota: Kredit buat Mera yang menghasilkan gambar yang indah ini

Jumat, April 3

Indonesia menangis lagi

Salam.
Saat aku ingin ke kampus semalam, aku terserempak dengan sekumpulan mahasiswa/i yang sedang memungut derma untuk satu tragedi yang baru melanda Bumi Indonesia. Tragedi Situ Gintung. Hujan tanpa henti selama tiga hari telah menyebabkan air di empangan melimpah dan empangan tersebut pecah. Air empangan tersebut telah menenggelami kawasan seluas 1000km persegi. Itu kata kawanku. Aku pun belum sempat melihat pokok cerita sebenar.

Namun, sebagai mahasiswa/i yang peduli, hulurkan bantuan anda. Membantu saudara kita di sini. Ringankan beban mereka. Aku sertakan video untuk tatapan semua. Yang menarik, banyak rumah-rumah yang ditenggelami air dan hancur, tapi perhatikanlah masjid, rumah Allah malah kukuh di situ. Sama seperti kejadian tsunami 26 disember 2004. Indonesia punya 1001 sebab untuk kita yang selesa ni insafi dan syukuri.






Ini nasihat untuk aku. Aku tengah nak sedapkan hati dan agar lebih bersemangat.

"It's not what's happening to you now or what has happened in your past that determines who you become. Rather, it's your decisions about what to focus on, what things mean to you, and what you're going to do about them that will determine your ultimate destiny. "
Anthony Robins

Senin, Maret 30

Kata- kata maaf

Salam.
Aku telah meminta kebenaran darinya untuk mencopy paste entrinya. Tapi, aku rasa dia sedang sibuk. Aku letak jugak, kerana ia amat sesuai dengan situasiku suatu masa dahulu. Dan sekarang, biarlah ia menjadi pengajaran berharga bagiku.


SILVER LINE


Dalam hidup ini, beberapa kali saya merasa terhianati. Oleh teman sendiri yang menurut kata hati saya sudah menyakiti akibat menanggalkan rasa percaya yang sudah lama saya tanam. Marah, kesal, kecewa dan sakit hati. Kumpulan sifat negatif itu akhirnya menjadi bumerang untuk diri sendiri.

Rasanya berat untuk bersikap positif. Saat kita merasa terluka oleh orang yang selama ini dekat. Antipati segera datang padahal tak pernah kita inginkan.

Salah satu cerita klasik mengisahkan, bila kita sudah cinta pada seseorang, maka meludahnya sajapun terlihat indah dan mempesona. Tapi bila rasa benci padanya sudah menyelimuti hati, senyum dan tawanya pun terasa bagai siksaan tak terperi.

Emosi memang selalu mampu menggoroti otak kiri kita, hingga rasio sering hilang begitu saja. Tak mampu menimbang dengan jernih duduk masalah.

Seorang teman pernah bertanya, “bagaimana caranya untuk memaafkan?”. Sebuah pertanyaan sederhana, namun saya tak sanggup mengurai jawabannya. Apa susahnya memberi maaf, ya tinggal maafkan saja. Hal-hal ‘bagaimana caranya’ berkaitan dengan prosedur. Prosedur memaafkan saya fikir sederhana saja. Tinggal ucapkan maaf atau terima maaf orang yang meminta maaf.

Setelah berselang waktu, saya menyadari bahwa pertanyaan sebenarnya bukanlah bagaimana cara memaafkan, melainkan bagaimana mengikhlaskan maaf. Bibir kita bisa saja mengucap maaf, tapi hati belum tentu ikhlas memaafkan. Itulah inti masalahnya. Apalagi pada tingkat sakit hati yang begitu hebat, melepas maaf dari lubuk hati bukanlah perkara mudah. Bahkan kadang butuh waktu yang amat panjang.

Saya pernah kenal dengan seseorang yang sudah 15 tahun tak saling bicara dengan ibu kandungnya sendiri. Persoalannya, ya itu…, sulit melepas maaf dalam hati. Setiap lebaran tiba, ucapan maaf memang saling terlontar. Tapi itu hanya sekedar maaf di bibir saja. Selepas itu?, sakit hati masih melekat kuat. Egoiskah mereka? Sulit saya jawab, sebab menurut saya keduanya adalah orang yang begitu baik dan penuh kasih sayang. Kebekuan Ibu dan anaknya itu baru mencair saat sang ibu menjelang sakratul maut. Ajal yang sudah mendekat membuka hati mereka untuk saling mengikhlaskan.

Dalam film Stuart Little II, dikisahkan, seekor anak tikus yang diadopsi keluarga Little merasa hidupnya hancur lebur. Berbagai cobaan dan penolakan ia terima. Setiap melakukan sesuatu yang baik, ia selalu dianggap salah. Stuart frustrasi. Dalam kegalauan itu, sang Ayah mendekatinya. “Dalam hidup ini kita memang sering melihat awan hitam. Tapi yakinlah selalu ada silver line (sisi baiknya)”, katanya membujuk Stuart yang sedang kelabu.

Ya… silver line (sisi baik) dari segala peristiwa memang ada. Meski kadang tersembunyi jauh dari pandangan kita. Orang-orang biasa menyebutnya dengan “hikmah”. Bila ada yang mengalami musibah, kita selalu diminta untuk mengambil hikmahnya. Memetik pelajaran berharga dari peristiwa buruk yang menghadang.

Saya baru saja mendapat sebuah jawaban atas pertanyaan seorang kawan bertahun-tahun lalu tentang bagaimana memaafkan itu. Kita bisa melihat silver line-nya. Itulah yang membuat maaf bisa membasuh sakit hati.

Silver line juga yang membuat kita tak terjebak pada situasi tak menyenangkan sehingga meluapkan emosi. Hari ini, saya juga dapat merasakan silver line itu. Ia memang bermanfaat. Tak perlu menunggu permintaan maaf dari orang lain. Menelisik silver line membuat hati ini sudah terbilas dari sakit hati.

Sumber: blog Selisik Dunia.

Ditag lagi oleh cik Fathen.

ceritekan pasal maksud name anda dan asal usulnye.

Nama sebenar Madziani bt Ab Majid.
Madziani.
Tak pernah tahu pun makna nama ni. Malah tak wujud pun dalam kamus.
Kat buku nama-nama pilihan pun takde. Sedih-sedih.
Asal- usul. Ni pun tak pernah tanya mak dan ayah. Entah bagaimana mereka dapat pun aku tak pasti.
Mungkin cuba mencari nama yang mirip-mirip kakakku kot. Nama kakakku, Madziah. Tukar sikit jadi Madziani.
Tapi nak sedap hati, sebab nama ni takde maksud, aku cari maksud nama Ani.
Ada!
Ani bermaksud masak ranum. Macam tak sesuai je.
Ani juga bermaksud sopan santun. (seperti kata cik fathen, perasan tak keno bayor) jadi bolehlah disimpulkan aku ni budak sopan santun anak kepada hamba Allah yang mulia.

ok cik Fathen.
I'm done.

Jumat, Maret 27

Kado buat TWP students

Salam,
Aku terjumpa blog ni beberapa bulan yang lalu.
Ingin kukongsikan bersama sahabat-sahabat TWP sekalian.

Ini linknya

Medical PBL UKM


Aku rasa blog ni bagus untuk mereka yang bakal meneruskan pengajian klinikal di UKM.
Aku paling suka bila ada satu ruangan untuk mendownload past year questions, posting-posting di setiap department masa tahun ketiga. Jadi, pada sesiapa yang ingin melakukan persiapan awal (memang patut buat persiapan awal) aku rasa ini salah satu blog yang boleh dijadikan rujukan.

Jika ada blog/ laman web lain, silalah berkongsi sama.

Kamis, Maret 26

Catatan Masa Silam

Salam semua,
Semoga kamu dirahmati Allah selalu.

Kisahku sebagai 'penyelamat kucing'
Saat aku di rumah, aku jarang tidur awal. Biasanya aku hanya akan tidur selepas jam 1 pagi. Ini kebiasaan aku. Selepas 1 jam melakukan latih tubi matematik tambahan. Kadang-kadang, aku akan tidur awal, dan akan bangun pada tengah malam (ini sebab nak tonton perlawanan bola sepak punya pasal, hish!)

Bila tidur lewat-lewat begini, segala macam bunyi boleh kita dengar. Suasana sunyi waktu malam. Dan kebiasaan aku yang satu ni, yang kini masih lagi diamalkan, aku sangat suka menghirup udara segar waktu pagi-pagi buta. Akanku buka pintu rumah atau pintu bilikku (di sini, bumi Indonesia) hanya untuk menghirup udara segar itu. Hanya beberapa minit, namun sangat menyegarkan.

Kembali pada perihal bunyi. Kadang-kadang, aku akan mendengar bunyi kucing mengiaw (harap tak salah eja) Kucing, kalau mengiaw berkali-kali tanpa henti tu, tandanya ia sedang meminta tolong. Biasanya kalau dalam kes aku, anak-anak kucing yang jatuh dalam longkang dan tak tahu macam mana nak naik. Akanku bukakan pintu rumah, tak kiralah pintu depan ke, pintu dapur ke dan akanku cuba cari..kat mana kamu ya? Kala itu, pepagi buta, sunyi sepi, aku keluar dengan tekad mahu menyelamatkan si anak kucing. Aku sebak kalau dengar kucing-kucing ni mengiaw.

Satu malam, aku terdengar suara kucing. Aku bukakan pintu dan keluar. Kali ni, adik lelakiku turut ikut sama. Konon, nak temankan akula. Sampai satu masa,

" Kak Ni, jomla masuk," kedengaran suara cuak.
" Tunggula dulu. Tak ambik kucing lagi. Ni nampak bende-bende ke?" tanyaku.

Dia tuding jari.
Aku kerut muka.

" Arnab je pun," aku mengomel.
" Tapi warna hitam," adik lelakiku menjawab.
" Kak Ni, jomla masuk," rayu adikku.

Ni sape lelaki, sape perempuan ni?
Aku wat dunno. Aku angkat anak kucing dari longkang, bersih kucing tu sikit-sikit dan aku tengok muka adik aku sambil kata..

" Penakut!"

Esoknya, aku tanya mak dan ayah kamu. Jiran kita ada pelihara kucing ke?
Mak dan ayah aku bagi jawapan positif.
Aku ceritakan kisah semalam pada adik-beradik aku.
Apalagi bantai kena gelak.
Namun, sebab ejekan yang diterima, adik aku membesar sebagai seorang yang dah tak takut pada 'bende alah' itu. Kadang-kadang, hinaan dan ejekan itu pemangkin semangat untuk kita lebih berusaha.

Aku sangat bersyukur, setiap kali aku melakukan misi menyelamat kucing, tidak ada apa-apa yang berlaku. Tak semestinya hantu je, binatang yang tak diingini seperti ular ke (tempat aku memang banyak ular) atau manusia-manusia jahat yang ingin merompak rumah. Alhamdulillah. Yang penting, kita yakin Allah bersama kita. Ini yang aku pegang dari dulu. Ingatlah Allah walau di mana kita berada, saat senang atau susah. Pasti, Allah juga akan mengingati kita. Pasti Allah bersama kita.

p/s: Ni pun aku nak insaf, taknak layan bola sangat.
p/s: Ada kisah tentang keajaiban mengingati Allah setiap saat, kalau punya waktu akan kuceritakan. Kisah benar dari ibuku sendiri.
p/s: 10/4 ni national election buat Indonesia.Opps, silap. 9/4 sebenarnye.