Tampilkan postingan dengan label Perkongsian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perkongsian. Tampilkan semua postingan

Selasa, Juni 18

housemenship

Apa yang paling menarik mengenai kehidupan sebagai housemen di Hrpz adalah pakar-pakarnya yang tidak lokek mengajar.

Contoh yang paling saya ingat adalah ketika berada di klinik. Klinik adalah tempat yang sangat sibuk. Pesakit ramai dan suasana sangat hingar bingar seperti pasar. Tapi kliniklah waktu saya sebagai seorang housemen belajar bagaimana merawat pesakit di peringkat klinik. Waktu ini konsultasi dengan pakar adalah sangat penting.

Sewaktu posting medikal, saya sempat mengikuti klinik respiratori selama satu minggu. Klinik respiratori diuruskan oleh seorang pakar konsultan dan seorang pakar perubatan. Selesai sahaja saya mereview pesakit pasti saya akan ke bilik pakar. Waktu inilah saya bertanya kepada mereka dan penerangan yang diberikan cukup jelas.

Masih lagi terngiang-ngiang di telinga saya saat konsultan saya menerangkan satu persatu perihal penyakit TB yang patut saya tahu dan bagaimana merawat pesakit TB secara umumnya. Waktu itu dalam kotak fikiran saya "wah, aku belajar face to face dengan second best TB specialist di Malaysia!" Nak kata pandai tu tidaklah
Idea kasar itu adalah. Cuma perlu banyak banyak banyak tengok dan interpretasi chest x-ray. Itu sahaja. ( kena berani bertanya dan berani keluarkan idea kita)

Sekarang di posting ortopedik. Khamis yang lepas shift saya di klinik. Laju sahaja ambil fail pesakit dan pilih meja paling hujung. Tiba-tiba konsultan saya datang dan duduk semeja dengan saya. Dalam hati, haiya silap pilih meja la pulak. Konsultan saya terkenal tegas, banyak tanya dan banyak ajar. Hampir setiap pesakit yang saya review pasti akan ditanya soalan. Dan hampir semua pesakit yang direview oleh beliau akan beliau tanyakan saya soalan dan adakan teaching. 

Dan apa yang saya dapat simpulkan dari pengalaman saya yang cetek ini ialah setiap pakar dan konsultan walau sesibuk mana mereka pasti mereka mengambil masa untuk mengajar housemen. Mereka meraikan jawapan yang kita berikan. Jangan takut untuk menjawab soalan pakar. Kerana mereka tidak pernah tahu sebanyak mana kita tahu kecuali kita menjawab soalan mereka. ( sejujurnya masa saya med student saya pun takut nak jawab soalan, huhu)

Untuk semua bakal housemen nikmatilah housemenship anda. Tempoh belajar dan memperkukuhkan ilmu dan skills. Buat je semua prosedur. Bila jadi MO senang. Kalau jonah macam saya lagi best. Banyak belajar :p


Jumat, April 27

Duduk Bantah


Hari Ahad lepas aku ke Klinik Kesihatan. Teman ibu. Tiba-tiba gatal pula mahu melihat sejauh mana penglihatan mata aku tanpa menggunakan kacamata. Alhamdulillah, sudah bertambah-tambah baik. Mata kanan dan mata kiri semua 6/6. Memang kategori normal. 

Penglihatan dah jelas, sejelas stand aku.

Duduk dan bantah. Ia bertujuan untuk mereformasikan SPR. Tiada kaitan antara kerajaan dan Pakatan Rakyat. Penjelasan panjang lagi lebar di sini, sambung bahagian 2 di sini. Rangkuman ringkas di sini. (Semuanya dari blog yang sama, kurang-kurang ada yang suka tulis bukan macam aku ni)

Dalam hidup, ada 2 jalan. Tiada jalan yang tengah-tengah. Sedang aku mentadabbur surah Al-A'raf, aku menemukan ayat-ayat ini

Dan di antara keduanya (penghuni syurga dan neraka) ada batas, dan di atas A'raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dan dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka, dan mereka menyeru penduduk syurga "Salaamun 'alaikum" Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera memasukinya  (Al-A'raf:46)

Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu (Al-A'raf: 47)

Dan orang-orang yang di atas A'raaf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan "harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan, tidak memberi manfaat kepadamu" (Al-A'raf: 48)

Lantas, siapakah dia Ashabul A'raf itu?

Mereka ialah orang-orang yang kebaikan dan keburukannya sama. Mereka adalah orang-orang yang tidak menentukan sikap dalam kehidupannya. Mereka di hari kiamat, ditempatkan di tempat yang tinggi ( yang di beri nama A'raf) yang berada di antara syurga dan nereka. Orang yang ragu-ragu termasuk dari kelompok manusia itu dan jumlahnya banyak. 

Jadi pilih jalan anda. 

Nota:
Kenapalah dulu tak ambil bidang agama, sekarang makin jatuh sayang dari hari ke hari. Subhanallah.



Selasa, April 3

Tangkap muat 3






Awak tahu tak kenapa besbol merupakan sukan kesukaan saya?


Hurm, tak tahu. Kenapa?

Bermain besbol perlu pergi dan balik. Ibarat seorang lelaki, setelah penat bekerja akan pulang ke rumah. Saya rindu dan mahukan rumah itu. Tempat saya pulang.

Hurm, saya juga.

Awak juga? Awak faham apa yang saya maksudkan?

Yela, saya juga mahukan rumah. Rumah saya di Okinawa!

* Muka berubah *

Dia ni makhluk asing ke apa? Kata-kata romantis macam itu tidak difahami.


Nota :

Lakonan biasa, jalan cerita biasa. Kata-kata ini sahajalah yang luar biasa bagi aku.




Senin, Maret 5

Nur


Aku dilahirkan di Nursi dari Nuriye
aku menyebarkan Nur
tiba-tiba Aku dikelilingi Nur
dan sekarang Aku baring dibawah Nur

Sheikh Badiuzzaman Said Nurs (tokoh tersohor dari Turki)

Bila kita sudah terlalu lama berada di suatu tempat
Kita akhirnya menjadi tempat itu
(Rocky Balbao)


Kamis, Februari 16

Kisah cinta paling romantis

Tumblr ni buat aku addicted. Rasa nak reblogged banyak-banyak semua benda yang aku baca.


Kisah ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah

chapter aslinya berjudul “Mencintai sejantan ‘Ali”


Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.


Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!


‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.


”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”



Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.


Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.


’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.



Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.


Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.

”Ya. Engkau wahai saudaraku!”

”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”

”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.


Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.


”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”

”Entahlah..”

”Apa maksudmu?”

”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”

”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,

”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. 


’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.


Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:

“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4). 


Sumber : defildaily

Nota : Sangat-sangat bahagia buat mereka yang berkira-kira melangkah ke fasa baru.

Jumat, Februari 3

Catatan Masa Silam 4

Seingat aku, masa aku membuat keputusan nekad keluar dari sekolah asrama penuh, abahlah orang yang paling kecewa. Wajah kecewa abah aku ingat sampai sekarang. Tapi, aku lagi-lagi ingat wajah resah abah. Aku buat abah resah gelisah satu malam waktu aku berkeputusan keluar jalan-jalan seorang diri (Atau kau boleh baca lari dari rumah)

Waktu itu, apalah yang boleh seorang remaja berusia 13 tahun fikirkan. Abah tak habis-habis bandingkan performance aku di sekolah harian dan sekolah asrama. Ibu memang dari azali kurang bercakap, tambah-tambah ibu masih bekerja waktu itu. Kakakku di asrama. Aku keseorangan waktu itu. Keseorangan dalam menempuh akibat dari keputusan nekad aku itu. (Waktu itu, di tempat aku tinggal belajar di asrama penuh adalah perkara ohsem takde banding, kau keluar asrama kau manusia super pelik, waktu itulah )

Satu malam, tahap keserabutan aku mencapai tahap maksima. Aku nekad keluar rumah. Walau aku hingusan, tapi aku tidak tolol. Ke manalah boleh aku bawa diri. Duit dalam kocek pun takde. Aku kayuh basikal sambil menangis. Kayuhan aku sampai di hadapan surau kampung. Di situ tempat aku tenangkan diri. (Bila aku ingat balik, malu aku nak cerita kat orang betapa jauhnya aku keluar jalan-jalan malam tu)

Abah kerja malam tu. Terus abah minta rakan sekerja dia gantikan dia sekejap. Abah cari aku di rumah kawan-kawan aku. Mesti waktu ini abah super gelisah. Dulu takde telefon bimbit nak sms abah. Aku duduk sekejap sahaja kat surau tu. Tapi mashaAllah, efeknya memang terbaik. Tenang sangat. Dan aku boleh bertenang. Berfikir lebih dalam tentang masa depan aku dan bagaimana aku perlu harunginya.

Balik rumah, abah masih tiada. Aku relaks atas katil. Beberapa ketika, abah datang. Muka abah muka risau. Aku tengok abah dengan mata berkaca-kaca. Mana mungkin aku tinggalkan abah aku yang hensem ni, heh. Hari itu aku nekad, takkan buat abah risau pasal aku. Dan aku belajar sesuatu dari keputusan nekad aku. Jangan risau terlalu banyak, harungi dengan senyuman dan percaya Allah sentiasa bukakan jalan.


Bila aku sambung belajar kat matriks, nasihat  abah pada aku supaya jaga diri. Bila aku ke Indonesia, itu juga nasihat abah. Aku naik hairan, kenapa abah tak pernah nak nasihat aku belajar rajin-rajin. Bila fikir-fikir balik, abah tahu aku akan belajar rajin-rajin. Tapi sekali aku tak jaga diri aku betul-betul, aku boleh binasa. Once broken, considered sold, sis. Ilmu boleh ditimba tapi akhlak yang baik terlahir seiring peredaran masa. Perlu dipupuk bertahun-tahun.

Usia 13 tahun memang epik buat aku.

TanpaMu,
Hatiku mulai resah,
Bisakahku tanpaMu?

TanpaMu,
aku bukan siapa-siapa,
Bisakahku tanpaMu?

Nota : Masih tidak matang macam sahabat-sahabat sekeliling aku.

Rabu, Februari 1

Carpe diem

We don't read and write poetry because it's cute. We read and write poetry because we are members of the human race. And the human race is filled with passion. And medicine, law, business, engineering, these are noble pursuits and necessary to sustain life. But poetry, beauty, romance, love, these are what we stay alive for. To quote from Whitman, "O me! O life!... of the questions of these recurring; of the endless trains of the faithless... of cities filled with the foolish; what good amid these, O me, O life?" Answer. That you are here - that life exists, and identity; that the powerful play goes on and you may contribute a verse. That the powerful play *goes on* and you may contribute a verse. What will your verse be?
John Keating, Dead Poets Society.

It's an old movie, back in 1980s.

This is the story of students at the respected "Welton Academy," a preparatory school in Vermont. Such schools were (and often still are) very conservative institutions that serve as high schools for parents who insist on sending their children to the best universities. Welton, like many prep schools, admitted only boys. The movie takes place in 1959. The plot centers on the influence of Mr. Keating, a young and exciting English and poetry teacher, who is determined to teach his students to live life with absolute passion. Mr. Keating, using poetry as his vehicle, teaches his students to challenge the institutions around them. Inspired by Mr. Keating's philosophy of life, many of his students recreate the "Dead Poet's Society," a secret club which meets in a cave in order to discuss poetry, philosophy and other topics. The club, which Mr. Keating had created many years earlier when he was a student at Welton, would be completely unacceptable to the conservative school, which discourages students from "thinking for themselves." Indeed, Welton students should be in their rooms, studying only the prescribed materials that their teachers assign. This movie is about what happens when these students decide to pursue their own desires, and to live life with the passion that Mr. Keating encouraged. Ultimately, it is about what happens when a few idealistic students find themselves confronted against conservative forces that resist all change, including the drive for personal self-determination.

Carpe diem!


Note : Love, love poetry.

Selasa, Desember 20

sembang

"Beruntunglah orang yang hari ini lebih baik dari semalam, rugilah orang yang sama keadaannya hari ini dengan semalam dan celaka lah orang yang hari ini lebih teruk dari semalam."-Pepatah Arab

Salam,

Aku amat teruja dengan binatang. Apatah lagi ular. Heh.

Semalam aku sempat menonton dokumentari National Geographic di TV1. Dan hari ini, sebelum pergi on-call, aku sempat tonton barang 10 minit. Apa yang membuat aku tertarik dan merasa unik ialah tentang pengkaji-pengkaji ular yang diceritakan. Salah seorang pengkaji ular (aku lupa nama dia) sanggup ke Afrika dan merata tempat kat dunia ni hanya semata-mata untuk mengkaji ular.

Aku tertarik dengan kajian yang dia buat. Bermula dengan satu persoalan, kenapa ular berbisa ini imun pada bisanya sendiri? Sebab kadang-kadang, instead of mematuk binatang lain, terkadang ular-ular ini terpatuk diri mereka sendiri dan  menariknya racun bisa ular itu tidak memberi kesan langsung pada mereka. Kenapa? Bermula dari persoalan itulah, si pengkaji ini berusaha memahami ular dan mencari ular di serata dunia untuk dibuat kajian, diambil DNA-nya. Dan dia berharap melalui kajian yang dibuat, anti-venom yang lebih baik dapat dihasilkan. Menarik bukan? Susah kot nak kaji benda alah  ni, lebih-lebih lagi benda-benda macam ni memang membahayakan nyawa. Sekiranya berjaya, kajiannya boleh memberi manfaat kepada seluruh manusia. Aku selalu merasakan pengkaji-pengkaji kat makmal adalah orang yang mengubah dunia. 

Ini juga membawa aku pada perkongsian oleh Prof aku masa kat OnG dulu. Katanya, ada satu kajian yang dibuat oleh sekumpulan pengkaji untuk mengkaji risiko-risiko untuk mendapat cardiovascular diseases (CVD). Pada akhir kajian mereka, dapat disimpulkan anak-anak yang sebelumnya lahir tidak cukup bulan lebih berisiko tinggi mendapat CVD berbanding bayi-bayi yang cukup bulan. Bila dikaji lebih dalam, rupa-rupanya, bayi-bayi yang memang tak cukup bulan, kecil untuk umur gestasi mereka ini sebenarnya telah terbiasa dengan keadaan serba kekurangan. Sel-sel badan mereka telah diprogramkan untuk beradaptasi dengan nutrisi yang sedikit semasa di dalam kandungan. 

Bagi ibu bapa pula yang bayinya kecil, tak cukup bulan ni biasanya sesudah bayi lahir akan cenderung untuk overfed the baby since they thought that the only way to increase the baby weight. Melalui kajian inilah keluarnya saranan untuk memberi bayi cukup-cukup makan je. Jangan terlebih-lebih atau terkurang. Kerana sel-sel badan akan mudah rosak apabila tetiba diberi makan lebih-lebih dan seterusnya membawa risiko yang lebih tinggi untuk mendapat CVD.

Bagaimana dengan satu kajian begitu mampu mengubah paradigma dunia perubatan. Malah membantu mengurangkan risiko CVD. Unik bukan? (Ke aku je yang syok sendiri?) 

Sebab tu aku rasa SSM menarik :)

Malah, sebelum aku pilih jadi doktor, aku bercita-cita nak jadi pakar kimia. Cipta bahan-bahan industri yang lebih mesra alam agar plastik-plastik sampah boleh degradasikan. Heh.

Ada banyak cara untuk ubah dunia. Duduk rumah didik anak jadi mujahid dan mujahidah juga mampu mengubah dunia. Contoh femes, ibu-ibu kat Palestin dan ibu-ibu kat Turki. Asalkan anda menjadi orang yang bermanfaat, InshaAllah anda sememangnya orang yang mampu mengubah dunia.


“Whenever you find yourself on the side of the majority, it’s time to pause and reflect.” -Mark Twain

-Percayalah, ia tidak akan pernah terlambat untuk pusingan U-

Jumat, Desember 16

Oley!

Niat dan emosi mampu merealisasikan sesuatu impian.
Maka, kejarlah pelangimu sehingga ke hujung dunia.

Masa zaman sekolah dulu, sebelum tidur aku selalu membayang diri aku 10 tahun akan datang. Apa yang aku akan jadi. Ala-ala mengukir impian di langit biru, kepada Ani masa depan*

Sekarang dalam tempoh yang agak genting. Hari-hari sebelum tidur aku bayangkan diri aku masa peperiksaan profesional, aku memakai jubah merah tanda telah berjaya lulus dan bergelar doktor sambil bergambar bersama ibu dan ayah aku di depan banguna DECTAR. Aku katakan pada diriku, kepada Ani masa depan, ini yang akan kamu jadi.

Nak kata semangat, sesekali sekala ada jugak jatuh tu. Tapi, surat layang datang lagi. Kepada Ani masa depan, semuanya baik-baik saja. Bab kata Ameer Khan dalam 3 idiots, All is well, All is well. 


* Idea ni datang dari seorang sahabat. Terima kasih.




Jom layan sebuah filem pendek yang menerangkan hudud secara umum. Majalah I bulan November pun mengupas tentang salah faham pelaksanaan hukum hudud dengan panjang lebar. Sangat membuka minda.

Sekiranya anda mempersoalkan tentang hukum yang datangnya dari Allah, mungkin anda patut mempersoalkan kenapa anda Islam.

10 tahun lagi, aku sangat-sangat berharap Malaysia merupakan negara yang terbaik untuk kita huni.

Minggu, Desember 11

A dialogue with iblis

When less books are read, I'll do copy pasting!
In his tafsir in Ruh al-Bayan, Shaykh Isma`il Haqqi relates the following hadith from Ibn `Abbas (r) :
One time, the Prophet (s) went out of the masjid, and as he went out, he saw Iblis approaching. The Prophet (s) said, “What brought you to the door of my masjid?” Shaytan said, “I came by [order of] Allah (swt).”
Note here that even Iblis believes in Allah (swt) and he is a unitarian (muwahhid). If Iblis is a believer, why then did he not make prostration (sajda) to Adam (as)? It was because he refused to accept prostrating himself before anyone. From pride and arrogance he disobeyed, and for that reason Allah (swt) cursed him. But thought Iblis disobeyed Allah, it did not alter is belief in Allah (swt). He was muwahhid and he remains one. He knows that Allah (swt) is the Creator of all, without partner.
After Iblis said to Sayyidina Muhammad (s), “I came by [order of] Allah (swt),”
The Prophet asked, “Why?” Shaytan replied,. “In order for you to ask me whatever you like.”
This means here that Allah (swt) ordered him to come to the Prophet (s), and put himself at the Prophet’s (s) disposal. He believed that Muhammad (s) is the Prophet (s) of Allah.
Ibn Abbas (ra) continues the hadith:
The first thing that the Prophet (s) asked about was Salat, the prayers. The Prophet (s) said to Iblis, “Why do you prevent my ummah from praying in congregation?” Iblis said, “If your ummah, your nation, your believers, come to the prayer, I will develop a fever in me that causes me to lose myself. That humma, that fever, does not leave me until the believers part.” The Prophet (s) asked“Why do you prevent my ummah from studying Islamic knowledge and from making du`a?” Iblis said, “When they make du`a and raise their hands to Allah (swt), I become deaf and blind.”
See here how Shaytan tries to prevent the believers from making invocation by gossiping in their ears, confusing them. He tells them “Don’t believe.” He does this because their prayers cause him to become ill.
Ibn `Abbas continued:
The Prophet (s) asked, “Why do you prevent my ummah from reciting Qur’aan?” Iblis replied, “when they recite Qur’an, I melt the way lead melts.” So he tries to stop them in any way that he can. Sayyidina Muhammad (s) asked, “Why do you prevent my ummah from jihad?” Iblis replied, “When they go for jihad, my feet are chained until they return.” “And if they go to hajj, I am wrapped in chains until they come back.” “And when they want to give sadaqa Allah makes saws that come to cut my head”.
That is why people’s hands tremble when they give money in the way of Allah. Shaytan is after them. That is yet another reason we say “A`oodhu billahi min ash-Shaytan ir-rajeem.”
Iblis, ash-Shaytan ir-rajeem, constantly seeks to cause trouble and that is why Allah ordered, “So when you recite the Quran, seek refuge with Allah from Shaytan, the accursed” [16: 98] All the descriptions of Iblis’s actions described in the hadith are contained within the attribute of ar-Rajeem. Allah (swt) sent him to answer the Prophet’s (s) question in order to clarify his role for the ummah.
Shaytan’s role is none less than to mislead the ummah and make them leave the path of Allah (swt). Allah has warned mankind against him so there is no hope that the cause of his enmity will pass away. He tells him to disbelieve. Failing this, he causes him to have doubts in his faith. Failing this, he causes him to commit acts of disobedience. Failing this, he hinders him from acts of obedience and service. If the believer is saved from all that, he spoils his actions by involving him in showing off (riya’) and conceit (`ujub) in his acts of obedience.
In a hadith reported on the authority of Anas ibn Malik (r) that the Prophet (s) said, “Indeed Shaytan circulates in the body like the circulation of blood” (Sahih Muslim, Book 26,#5405.)
Shaykh Isma`il al-Haqqi explains this hadith saying, “Ash-Shaytan musallat `ala tabi`yyati Bani Adam” – “Shaytan is always there, controlling the nature of human beings.” He controls them with two things: the desire for eating (shahw al-mubattan), and, and the desire for sex (shahwat al-mufarsh). These are the only ways that Shaytan has influence. For this reason the Prophet (s) said, “man yadman lee ma bayna qaihi wa ma bayna fakhayhi, fa adman lahu al-janna” – “whoever will guarantee for me what is between his jaws and what is between his legs, I will guarantee him Paradise.” (Bukhari)
The desire for eating is appeased through one’s mouth. The eyes move the tongue [with craving] as the nose smells food, and the hand moves to grab what it desires. This is shahwal mubattan – the lust for food. We fight for food to eat. Here is one meaning of the importance of keeping the tongue safe. Food is tasted by the tongue only from its tip to the back of the throat. Once past the throat all food is the same. Some hospital patients can only be fed using a intravenous transfusion that dispenses food into their system directly. It has no taste, but the patient lives. The patient feels no hunger pains. The desire is located in the tongue within the mouth.
Desire is whatever comes and goes from the mouth and whatever proceeds from sexual desire, shahwat al-haram, desire for the forbidden. To control desire, hawa, is the struggle against the self - jihad an-nafs. Your self will never allow you to control it. It is in constant combat with you. The tongue desires the best food – bread, meat and rice.
Thus the first step in struggling with the self it to fight the desire for food. You desire the best kind of food of varying types and flavors. If you have ten varieties, you desire twelve. The eyes are always hungry. For that our Grandshaykh used to say, “the only thing which will fill the greed of the eyes is dust” – meaning that desire continues until you enter the grave. Thus the eyes become the hole through which desire enters and looking, here and there, is the means by which dissatisfaction and envy are fed. Keeping the eyes from wandering and looking at what is around you is a powerful method for controlling the desire of the tongue.

Kamis, Desember 1

What rights do they have?

Every human deserves their rights. Help others and hopefully others will help you.




For more information, kindly visit the website.


Help you one another in Al-Birr and At-Taqwa (virtue, righteousness and piety); but do not help one another in sin and transgression. And fear Allah. Verily, Allah is Severe in punishment ( Al- Maidah 5: 2)

Sabtu, Mei 28

Lepaskan egomu

Dah ludah, nak jilat balik ke?

Terbaca status di facebook oleh sahabat saya.

Lama saya termenung. Berfikir. Sebab saya rasa ada yang tidak kena pada kenyataan tersebut.

Kerana dengan keprihatinan pada sikap dan rasional, kita pasti sedia maklum meludah juga bukanlah satu hal yang baik. Lebih-lebih lagi meludah di merata-rata tempat. Makanya, sebelum meludah, harus diletakkan rasional dulu sebelum bertindak.

Hanya sekadar analogi ringkas.

Ramai juga orang merasa terkhianti kat dunia ni ya. Antara post saya yang paling popular adalah kata-kata maaf, hasil cuplikan dari Bang Irfan Edcoustic. Sesuatu yang mungkin menenangkan kamu semua, harapnyalah..


Hadith Ibn Umar Radhiyallahu ‘anhuma, “Seorang mukmin yang bergaul dengan orang ramai dan bersabar di atas kesakitan yang timbul akibat pergaulan itu, adalah lebih baik daripada seorang mukin yang tidak bercampur gaul dengan orang ramai dan tidak sabar di atas kesakitan akibat pergaulan itu” (Al-Tirmidhi 2507, Ibn Majah 4032)


Lepaskanlah egomu. Itulah caranya. Jika sudah ludah, maka berusahalah membersihkannya. Tiada yang salah pada perbuatan itu. Itu malahan lebih mulia, bukankah menyambung silaturrahmi itu perbuatan yang mulia?
Nota : Mengimbau kisah dulu-dulu. Percayalah, walau ia sulit, akhirnya itu semanis madu. Saya tetap sayangkan dia. Opps, saya yang bersalah sebenarnya. Ego!

Rabu, Mei 25

the world that we live in



“At a time when $700 billion can be found overnight to bail out the richest bankers in the world and $1000 billion can be spent on one single “war,” when sovereign wealth funds in a few rich countries alone are at $2500 billion and growing, it stretches credulity when we are told that the world can’t find an extra $18 billion a year to save the lives of millions of children and women and meet the basic needs of the majority of the world’s population.”
- Global Director, U.N. Millennium Campaign, Salil Shetty


hurm,

Then which of the Blessings of your Lord will you deny?

Senin, Mei 9

numbers

Sayyidina Ali (as) while he was a Khalifa was known for his mathematical genius. One Day a person came to him, thinking that since Ali thinks he is too smart, I'll ask him such a tough question that he won't be able to answer it and I'll have the chance to embarrass him in front of all the Arabs.

He asked "Ali, tell me a number, that if we divide it by any number from 1-10 the answer will always come in the form of a whole number and not as a fraction." Ali Looked back at him and said, "Take the number of days in a year and multiply it with the number of days in a week and you will have your answer."

The person got astonished but as he was a Mushrik he still didn't believe Ali. He calculated the answer Ali gave him. To his amazement he came across the following results:

The number of Days in a Year = 360 (in Arabic Calendar)
The Number of Days in a Week = 7
The product of the two numbers = 2520

Now...

2520 ÷ 1 == 2520
2520 ÷ 2 == 1260
2520 ÷ 3 == 840
2520 ÷ 4 == 630
2520 ÷ 5 == 504
2520 ÷ 6 == 420
2520 ÷ 7 == 360
2520 ÷ 8 == 315
2520 ÷ 9 == 280
2520 ÷ 10== 252

In another occasion...

A person was about to die, and before dying he wrote his Will which went as follows...

"I have 17 Camels, and I have three sons. Divide my Camels in such a way, that My eldest son gets half of them, the second one gets 1/3rd of the total and my youngest son gets 1/9th of the total number of Camels"

After his death when the relatives read his will they got extremely perplexed and said to each other that how can we divide 17 camels like this.

So after a long hard thought they decided that there was only one man in Arabia who could help them: Ali Ibne Abi Taalib.

So they all came to the door of Ali and put forward their problem.

Ali said, "Ok. I will divide the camels as per the man's will. I will lend one of my camels to the total which makes it 18 (17+1), now lets divide as per his will"

The Eldest gets 1/2 of 18 == 9
The second one gets 1/3 of 18 == 6
and The Youngest gets 1/9 of 18 == 2
Now the total number of camels == 17


Then Ali said, "Now I will take my Camel back"

source:  http://pu3nazifah.blogspot.com

note : love math and love sirah!

Sabtu, April 9

Hidup

Kau sedang apa?

Aku sedang tidak punyai kegiatan, sahutnya

Kalau begitu, belajarlah sesuatu. Pada saat ini, banyak orang berhenti menjalani kehidupan. Mereka tidak marah, juga tidak berseru-seru memprotes, mereka sekadar menunggu waktu berlalu. Mereka tidak menerima tantangan-tantangan kehidupan, jadi kehidupan pun berhenti memberikan tantangan pada mereka. Kau juga mengambil risiko yang sama. Tunjukkan reaksi, hadapi hidup; tapi jangan berhenti hidup.

Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan) tetaplah bekerja keras( untuk urusan yang lain)
(Al-Insyirah : 7)

Terinspirasi dari kisah sahabat saya dalam Setenang Malam.

Kekuatan anda, semangat dan inspirasi saya. Sayang kamu amat (walau kita tidak pernah bertemu empat mata) eh, pernah, cuma tidak sempat bertegur sapa, di Radiologi Department PPUKM

Senin, Maret 28

pernahkah anda?

Saya teringat kisah di Bandung. Semasa saya di tahun 3 pengajian di Unpad, saya dan rakan-rakan pernah menyertai satu program anjuran KUBI, iaitu explorace. Jika ditanya pada saya, pada saya explorace ini lebih susah berbanding kuiz sejarah yang pernah saya masuk semasa di tahun 2 pengajian.

Kenapa begitu? Sebab explorace ni memang unik. Anda perlu mengetahui selok belok Al-Quran untuk anda menjawab semua soalan di setiap check point. Sekiranya anda gagal, maka anda akan didenda. Ini akan melambatkan lagi explorace anda. Seingat saya, di setiap check point kami akan didenda. Memang last-last tu kami give up. Pertamanya sebab dah masuk maghrib tak selesai-selesai lagi explorace. Kedua sebab memang dah letih. Kalau terus sekalipun, pasti kena denda je. Semestinya ia merupakan satu pengalaman yang takkan saya lupakan.

Bila ingat balik pasal explorace ni, saya dan rakan-rakan refleks diri kami. Memang sangat jahil pasal Al-Quran. Ayat-ayat yang biasa dengar pun boleh lupa surah mana. Memang masa tu terasa sangat betapa jahilnya diri ni. Tahniah saya ucapkan buat penganjur program.

Sedang saya menjelajah dari satu blog ke satu blog, saya terjumpa satu post dari kenalan sahabat saya. Tajuknya Have you read the Quran? Memang menarik video yang dia kongsikan. Kisah seorang saudara baru yang memeluk Islam hanya kerana seorang sahabatnya mencabarnya membaca Bible (kerana dia dulu kristian) Menariknya, dari Bible itulah membawanya kepada Islam.

Itulah petunjuk Allah, dengan itu Dia memberi petunjuk kepada siapa saja di antara hamba-hambaNya yang Dia kehendaki -Al-An'am :88-

Resolusi saya, mahu baca satu ayat Al-Quran beserta tafsirnya setiap hari. InshaAllah. Anda bagaimana?

~Tarbiah adalah tunjang kekuatan jemaah~

Minggu, Maret 20

An energy booster!

 Taken from productivemuslim.com


Here’s a productivity tip which will boost your energies:

We all know the famous story of Fatimah, the daughter of the Prophet Muhammad (Peace be upon him), when her husband, Ali (May Allah be pleased with him) asked her to go ask her father for a servant to help them in their house chores. When she went to her father’s house, she didn’t find him. Later in the evening, Ayesha the wife of Prophet Muhammad, told the Prophet that his daughter was looking for him and what his daughter requested. The Prophet went to Fatima’s and Ali’s house, sat between them and said:

“Shall I tell you a thing which is better than what you asked me for? When you go to your beds, say: ‘Allahu Akbar (i.e. Allah is Greater)’ for 34 times, and ‘Alhamdu Lillah (i.e. all the praises are for Allah)’ for 33 times, and Subhan Allah (i.e. Glorified be Allah) for 33 times. This is better for you than what you have requested.”

Here’s the amazing bit, anyone who has actually tried this remembrance before going to sleep will actually wake up next morning full of energy! Scholars and pious men/women who’ve tried this would swear that it works! And I tried it too and it does work!

So tonight, and for every night, before you sleep, say SubhanAllah 33 times, al-hamdulillah, 33 times and Allahu Akbar 34 times and watch the wonder of remembrance of Allah take place within you inshaAllah!