Senin, Februari 27

Awak,

Pada waktu ini, aku rindu. Rindu pada sosok yang telah lama meninggalkanku. Aku rindu pada semangatnya. Sosok yang tidak pernah jemu menuntut ilmu walau kanser ovari yang dihidapinya sudah di peringkat akhir. Dari sekolah berasrama penuh, dia berpindah ke sekolah berdekatan rumahnya. Hanya untuk belajar. Walau di mana dia berada, pasti dia bersama buku.

Pernah suatu ketika, dia bermalam di rumahku. Waktu itu, dia sempat menghabiskan beberapa buah buku di rumahku. Hanya dalam masa satu hari sahaja. Aku rindu pada kecintaan dia, kecintaan pada ilmu. Dan aku rindu dia, sosok yang turut menyentuh aku agar teruja pada tradisi menyimpan ilmu di dada dan bukan hanya di atas kertas. (Sedikit-dikit kecintaan itu semakin hilang, dush!)

Kegagalan itu adalah ujian paling ringan - Prof Shahrir.

Siapa yang tidak pernah gagal?

Ia adalah lumrah kehidupan. Gagal. Lulus.

"Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongmu mengalahkan orang lain. Aku hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah." - sumber blog motivasi sukses
Aku rindu Dayah. Aku rindu arwah sekarang. Rindu semangat dia. Kita mungkin lupa bagaimana rupa orang itu, mungkin lupa apa yang telah dia buat, tapi kita takkan pernah lupa bagaimana orang itu telah menghadirkan seribu satu rasa buat kita.

"Doktor, tidak bolehkah anda memberikan sedikit harapan untuk seseorang yang harus menghadapi kematian ketika teman-temannya sedang mencipta mimpi untuk masa depan?"

May you rest in peace. Ameen.




Imtihan datang lagi

3 tahun di Unpad,
3 tahun di UKM,
3 minggu untuk Ikhtisas.

Mohon doa dari pembaca sekalian,
Doakan kami-kami mendapatkan yang terbaik.
Terbaik dari Allah untuk kami.



Nota : Aku suka imtihan, imtihan suka aku (Aplikasi hukum tarikan)


Minggu, Februari 19

Perhatian!


Susah nak tulis panjang-panjang. Singgah sini, Yang dikasihi : Syria


Kamis, Februari 16

Kisah cinta paling romantis

Tumblr ni buat aku addicted. Rasa nak reblogged banyak-banyak semua benda yang aku baca.


Kisah ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah

chapter aslinya berjudul “Mencintai sejantan ‘Ali”


Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.


Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!


‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.


”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”



Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.


Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.


’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.



Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.


Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.

”Ya. Engkau wahai saudaraku!”

”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”

”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.


Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.


”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”

”Entahlah..”

”Apa maksudmu?”

”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”

”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,

”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. 


’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.


Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:

“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4). 


Sumber : defildaily

Nota : Sangat-sangat bahagia buat mereka yang berkira-kira melangkah ke fasa baru.

Senin, Februari 13

Rahsia


Orang bilang wanita hanya mampu menyimpan rahsia selama 30 minit
Aku nekad ingin pecahkan rekod itu
Aku ingin menyimpannya selama 3 jam
Selepas itu datang lagi seorang
Mengabarkan rahsianya padaku
Kali ini aku mahu menyimpannya selama 3 hari
Terus-terusan rahsia datang lagi
Aku mula meragui dan menanyakan diriku
Apa 30 minit, 3 jam, dan 3 hari itu benar?
Apa rahsia itu harus dijaja?
Kalau dijaja ke sana ke mari
Bukan rahsialah, kawan
Akhirnya
Aku nekad mahu menyimpannya rapat dalam diriku
Kerana rahsia itu amanah, yang tidak harus dijaja ke sana ke mari
Dan nilai moral itu datang beserta iman

Allah adalah penyimpan rahsia paling agung
Menyimpan aib-aib kita dan Maha Baik memberi nikmatNya.

Nota : Aku ingat perempuanlah jaguh gosip, rupa tidak. 

Minggu, Februari 12

Alkisah

Pagi Sabtu.

Ketika hendak ke tandas, aku mendapati 2 orang pelajar kelas Kafa berdiri di hadapan tandas. Tersenyum aku melihat telatah mereka. Mereka berdua sedang membaca doa masuk tandas. Lambat-lambat mereka membaca doa tersebut.

Tidak semena-mena, datang seorang pelajar, yang lebih tua berbanding mereka. Meluru laju masuk ke dalam tandas. Mereka perhatikan pelajar tersebut yang mereka panggil kakak. Sedang, mereka masih belum selesai membaca doa masuk tandas.

" Oh, jomlah. Kakak tu pun tak baca doa "

Terus mereka berdua masuk.

Kanak-kanak belajar dari mereka yang lebih tua. Jadilah teladan yang baik.


Being a role model is the most powerful form of educating. Youngsters need good role models more than they need critics. It's one of parents greatest responsibilities and opportunities.


John Wooden 1910 - 2010

Jumat, Februari 10

Sesuatu

Sesuatu yang bukan milikmu, walau ditatang bagai minyak yang penuh, walau dijaga rapi, disimpan sebaik-sebaiknya, tersemat kemas dalam hatimu, pasti akan berlalu pergi tinggalkanmu.

Sesuatu yang pasti milikmu, walau tidak ingin lagi kamu punyai, walau tidak lagi kamu ingati, walau telah kamu buangnya dari hatimu, pasti akan hadir kembali dalam hidupmu.

Post jumpa telefon bimbit selepas 6 bulan.


Nota : Sejuk hati hari-hari pandang bulan.

Selasa, Februari 7

Diri

Dalam diri
Ada nafsu buas yang membuak-buak
Ada iman yang serba nipis
Dua-dua berdaya saing
Selagi kebaikan itu lebih kau cintai
Pasti dapat kau kalahkan nafsu buas itu
Tiada orang yang dibiarkan sesat
Melainkan kau sendiri memilihnya
Cahaya tidak akan pernah padam
Melainkan kau memilih untuk bergelap.

Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis) Allah membimbing kepada cahayanya, siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Surah An-Nur : 35)

Minggu, Februari 5

Help

“Please pray for the city of Homs, Syria as it has witnessed the worst possible day of the revolution. Assad and his thugs killed more than 200+ people and 700 were injured. My family, my friends, we can’t get a hold of anyone! They POISONED the water pipes and there’s no food. WE NEED DUA, WE NEED SALAWAT! PLEASE remind people that these people are human, they are our brothers and sisters and they need our help!! ” 

- Via Yasmin Mogahed

The Messanger of Allah said :

"None of you truly believes until he loves for his brother what he loves for himself."
Do pray for them. To our brothers and sisters.


Sabda Rasulullah s.a.w :“Sesungguhnya orang yang paling banyak dekat denganku pada hari Kiamat adalah orang yang paling banyak berselawat kepadaku”[Al-Nasai & Ibn Hibban]

 صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

Jumat, Februari 3

Catatan Masa Silam 4

Seingat aku, masa aku membuat keputusan nekad keluar dari sekolah asrama penuh, abahlah orang yang paling kecewa. Wajah kecewa abah aku ingat sampai sekarang. Tapi, aku lagi-lagi ingat wajah resah abah. Aku buat abah resah gelisah satu malam waktu aku berkeputusan keluar jalan-jalan seorang diri (Atau kau boleh baca lari dari rumah)

Waktu itu, apalah yang boleh seorang remaja berusia 13 tahun fikirkan. Abah tak habis-habis bandingkan performance aku di sekolah harian dan sekolah asrama. Ibu memang dari azali kurang bercakap, tambah-tambah ibu masih bekerja waktu itu. Kakakku di asrama. Aku keseorangan waktu itu. Keseorangan dalam menempuh akibat dari keputusan nekad aku itu. (Waktu itu, di tempat aku tinggal belajar di asrama penuh adalah perkara ohsem takde banding, kau keluar asrama kau manusia super pelik, waktu itulah )

Satu malam, tahap keserabutan aku mencapai tahap maksima. Aku nekad keluar rumah. Walau aku hingusan, tapi aku tidak tolol. Ke manalah boleh aku bawa diri. Duit dalam kocek pun takde. Aku kayuh basikal sambil menangis. Kayuhan aku sampai di hadapan surau kampung. Di situ tempat aku tenangkan diri. (Bila aku ingat balik, malu aku nak cerita kat orang betapa jauhnya aku keluar jalan-jalan malam tu)

Abah kerja malam tu. Terus abah minta rakan sekerja dia gantikan dia sekejap. Abah cari aku di rumah kawan-kawan aku. Mesti waktu ini abah super gelisah. Dulu takde telefon bimbit nak sms abah. Aku duduk sekejap sahaja kat surau tu. Tapi mashaAllah, efeknya memang terbaik. Tenang sangat. Dan aku boleh bertenang. Berfikir lebih dalam tentang masa depan aku dan bagaimana aku perlu harunginya.

Balik rumah, abah masih tiada. Aku relaks atas katil. Beberapa ketika, abah datang. Muka abah muka risau. Aku tengok abah dengan mata berkaca-kaca. Mana mungkin aku tinggalkan abah aku yang hensem ni, heh. Hari itu aku nekad, takkan buat abah risau pasal aku. Dan aku belajar sesuatu dari keputusan nekad aku. Jangan risau terlalu banyak, harungi dengan senyuman dan percaya Allah sentiasa bukakan jalan.


Bila aku sambung belajar kat matriks, nasihat  abah pada aku supaya jaga diri. Bila aku ke Indonesia, itu juga nasihat abah. Aku naik hairan, kenapa abah tak pernah nak nasihat aku belajar rajin-rajin. Bila fikir-fikir balik, abah tahu aku akan belajar rajin-rajin. Tapi sekali aku tak jaga diri aku betul-betul, aku boleh binasa. Once broken, considered sold, sis. Ilmu boleh ditimba tapi akhlak yang baik terlahir seiring peredaran masa. Perlu dipupuk bertahun-tahun.

Usia 13 tahun memang epik buat aku.

TanpaMu,
Hatiku mulai resah,
Bisakahku tanpaMu?

TanpaMu,
aku bukan siapa-siapa,
Bisakahku tanpaMu?

Nota : Masih tidak matang macam sahabat-sahabat sekeliling aku.

Rabu, Februari 1

Carpe diem

We don't read and write poetry because it's cute. We read and write poetry because we are members of the human race. And the human race is filled with passion. And medicine, law, business, engineering, these are noble pursuits and necessary to sustain life. But poetry, beauty, romance, love, these are what we stay alive for. To quote from Whitman, "O me! O life!... of the questions of these recurring; of the endless trains of the faithless... of cities filled with the foolish; what good amid these, O me, O life?" Answer. That you are here - that life exists, and identity; that the powerful play goes on and you may contribute a verse. That the powerful play *goes on* and you may contribute a verse. What will your verse be?
John Keating, Dead Poets Society.

It's an old movie, back in 1980s.

This is the story of students at the respected "Welton Academy," a preparatory school in Vermont. Such schools were (and often still are) very conservative institutions that serve as high schools for parents who insist on sending their children to the best universities. Welton, like many prep schools, admitted only boys. The movie takes place in 1959. The plot centers on the influence of Mr. Keating, a young and exciting English and poetry teacher, who is determined to teach his students to live life with absolute passion. Mr. Keating, using poetry as his vehicle, teaches his students to challenge the institutions around them. Inspired by Mr. Keating's philosophy of life, many of his students recreate the "Dead Poet's Society," a secret club which meets in a cave in order to discuss poetry, philosophy and other topics. The club, which Mr. Keating had created many years earlier when he was a student at Welton, would be completely unacceptable to the conservative school, which discourages students from "thinking for themselves." Indeed, Welton students should be in their rooms, studying only the prescribed materials that their teachers assign. This movie is about what happens when these students decide to pursue their own desires, and to live life with the passion that Mr. Keating encouraged. Ultimately, it is about what happens when a few idealistic students find themselves confronted against conservative forces that resist all change, including the drive for personal self-determination.

Carpe diem!


Note : Love, love poetry.

:)

Tapi orang tak mungkin gagal meraih impiannya. Meski pada saat-saat tertentu, dia yakin dunia ini dan orang-orang lain lebih kuat daripada dirinya. Rahsianya cuma satu; Jangan menyerah- The Fifth Mountain, Paulo Coelho

Manusia sejak dari dulu, sewaktu bayi lagi sudah ada gen itu.
Jangan menyerah.
HasbunAllahu wa ni'mal wakeel.