Minggu, November 23

Sehari bersama syaitan

Salam.
Berikut adalah petikan Syaikh Ali Tanthawi rahimahullah,yang beliau tuliskan dalam bukunya "Yaumun Ma'a Syaithan" (Sehari bersama syaitan)

"Keadaanku dengan syaitan pada hari itu mencatat sejumlah peristiwa yang mengharuskan aku untuk tetap kuat/tabah.Antara contoh peristiwa itu ialah perasaan was-was atau syak.Syaitan berusaha agar aku marah pada Allah s.w.t dan melupakan nikmat-nikmatNya.Saat itu aku melalui sebuah jalan dan terserempak dengan seorang sahabat lama di satu sekolah dahulu.Pembicaraan kami berkembang hingga dia menceritakan bahawa dirinya kini sudah memiliki kedudukan terhormat,harta banyak.

Ketika itulah,syaitan berkata kepadaku, "Lihatlah itu.Mengapa engkau dengan ilmu dan kemuliaan dirimu itu tidak memperoleh harta dan kedudukan?Apa salahmu sehingga takdirmu tidak seperti dia?"

Aku katakan kepada syaitan "Diam wahai musuh Allah.Engkau ingin aku mengkufuri nikmat Allah swt terhadap diriku?Adakah di dunia ini ada seorang manusia yang memperolehi semua kebaikan yang dia inginkan sehingga tidak ada orang yang melebihinya?Mengapa aku harus melihat orang ini dan tidak memandang pada orang-orang lain yang sepertiku yang juga memiliki ilmu dan bersikap baik?Mereka juga tidak mempunyai kedudukan dan harta yang banyak.Mengapa engkau ingin mengajakku melihat orang yang lebih tinggi dariku dalam urusan dunia untuk aku iri hati?Mengapa engkau tidak mengarahkanku untuk lebih melihat orang yang berada di atasku dalam hal agama?Mengapa aku harus berdesakan untuk meningggikan darjat di dunia yang tidak kekal?Mengapa aku iri dengan orang ini yang hartanya lebih banyak dari hartaku dan tidak iri pada orang yang solatnya lebih banyak dari solatku dan memperoleh pahala lebih banyak serta memiliki simpanan kebaikan yang lebih besar dari simpananku?Mengapa aku iri kepada hartanya dan tidak iri terhadap ilmu yang aku miliki?Bukankah ilmu,manusia dan kepandaian itu adalah sama halnya dengan nikmat harta dan jawatan?Mengapa engkau meremehkanku?Alhamdulillah aku tidak meremehkan diri sendiri sedikitpun kerana aku mendapatkan sesuatu yang aku inginkan.Kesihatanku baik,isteriku melakukan tugasnya dengan baik,aku hidup aman di rumah,aku tenang dalam bekerja dan aku redha dengan Rabbku.Aku tidak ingin apapun kecuali meminta kepada Allah agar engkau menjauhiku!"

Sahabat sekalian,
apa yang ada di benak kita ketika membaca pengalaman Syaikh Ali Thantawi ini?


dipetik dari majalah tarbawi,edisi februari 2008
Artikel ini berbahasa Indonesia,jadi maaf jika ayatnya agak tunggang langgang selepas di'translate'

Tidak ada komentar: